Langsung ke isi
· Kabar AI & robotika, jernih dan terverifikasiNewsletter  ·  Majalah  ·  Kelas & Layanan
Tampilan
Pengaturan tampilan
Tema

Kabar AI yang mudah dibaca.

Pilihan tersimpan di perangkat Anda.

Langganan
Terkini
Trending

Peretas Korea Utara Diduga Pakai AI untuk Bobol Rp98 Triliun dari Binance

Pencurian kripto terbesar menimpa Binance dengan kerugian 6,3 miliar dolar AS. Pakar keamanan menduga peretas memakai kecerdasan buatan untuk mengelabui karyawan.

Foto liputan The Next Web untuk berita: Peretas Korea Utara Diduga Pakai AI untuk Bobol Rp98 Triliun dari Binance

Foto: The Next Web (Dokumentasi editorial)

Poin penting

  • Binance kehilangan sekitar 6,3 miliar dolar AS akibat serangan siber pada akhir Oktober 2026.
  • Biro penyelidik FBI menuding kelompok TraderTraitor asal Korea Utara sebagai dalang pencurian.
  • Pakar menduga pelaku memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memanipulasi staf lewat lowongan kerja palsu.

Bursa kripto terbesar di dunia, Binance, baru saja mengalami pencurian dana terbesar dalam sejarah. Kerugian bursa penukaran aset digital itu diperkirakan mencapai 6,3 miliar dolar AS.

Jika dihitung dalam rupiah, nilai kerugian itu setara hampir seratus triliun rupiah. Serangan siber ini terjadi pada atau sekitar 29 Oktober 2026.

Lembaga penegak hukum Amerika Serikat, FBI, mengaitkan aksi ini dengan kelompok peretas TraderTraitor dari Korea Utara. Laporan ini dimuat oleh media The Next Web.

Kelompok peretas yang sama juga dituduh mencuri 1,5 miliar dolar AS dari bursa Bybit pada Februari 2025. Kini skala serangan mereka melonjak sangat tajam.

Modus Wawancara Kerja Palsu dan Dugaan Peran AI

Penyidik meyakini peretas berhasil menyusup ke laptop milik seorang insinyur perangkat lunak Binance. Lewat komputer jinjing staf itu, pelaku bisa membuka sistem penarikan uang perusahaan.

Pakar keamanan siber dari Quorum Cyber, Federico Charosky, menjelaskan taktik umum pelaku. Para peretas biasanya mendekati pekerja teknologi lewat wawancara kerja bodong.

Korban dibujuk memasang program perusak atau malware di perangkat kerja mereka. Sekali program itu terpasang, peretas leluasa masuk ke jaringan internal perusahaan korban.

Para pakar menduga peretas memakai alat kecerdasan buatan untuk meriset sasaran dan menyusun jebakan. Meski begitu, The Next Web mencatat keterlibatan AI ini masih berupa dugaan analisis.

“This is an inflection point, and this attack is unprecedented,” kata Ari Redbord, Analis dari firma analisis blockchain TRM Labs.

Menurut Ari Redbord, nilai curian dalam satu malam itu menyamai total hasil pencurian kelompok tersebut selama enam tahun terakhir.

Rekam Jejak Kejahatan Siber Korea Utara Sepanjang 2026

Sepanjang empat bulan pertama tahun 2026, kelompok asal Korea Utara telah menguasai sekitar 76 persen dari total kerugian peretasan kripto global.

Sebagian besar kerugian awal tahun lalu berasal dari dua serangan pada April 2026. Sasaran mereka kala itu adalah platform KelpDAO dan Drift Protocol dengan kerugian 600 juta dolar AS.

Kelompok lain dari negara itu juga mulai bereksperimen menggunakan teknologi cerdas. Firma Genians asal Korea Selatan mengungkap temuan serupa pada Agustus 2026.

Menurut Genians, kelompok bernama Kimsuky memakai alat kecerdasan buatan buatan sendiri. Mereka memakainya untuk merancang surat jebakan phishing dan membuat virus komputer secara otomatis.

Apa Artinya bagi Pelaku Usaha

Kasus ini menunjukkan bahwa celah keamanan terbesar sering kali bukan pada kelemahan sistem server. Titik terlemah keamanan kantor justru berada pada kebiasaan karyawan di laptop pribadi.

Peretas kini bisa membuat pesan lowongan kerja atau berkas lamaran yang tampak sangat meyakinkan. Bahasa yang rapi dan komunikasi yang luwes membuat staf senior sekalipun mudah tertipu.

Bagi pimpinan perusahaan di Indonesia, aturan keamanan perangkat kerja wajib diperketat sekarang juga. Laptop yang memegang akses persetujuan uang tidak boleh dipakai sembarangan untuk mengunduh berkas asing.

Perusahaan perlu menerapkan pembatasan hak akses yang ketat antarperangkat kerja. Sistem pencairan dana bernilai besar sebaiknya mewajibkan persetujuan ganda dari beberapa pejabat berwenang.

Bukan saran investasi. Artikel ini hanya menyampaikan informasi. Aset kripto berisiko tinggi dan harganya bisa turun tajam. Pastikan memakai pedagang aset kripto yang terdaftar dan diawasi OJK.
✓ Lolos pemeriksaan redaksi AI. Artikel ini ditulis AI, 11 klaimnya dicocokkan dengan sumber, dan diuji keterbacaannya sebelum terbit. Menemukan kekeliruan? Laporkan ke redaksi.
Sumber berita (1):
  1. The Next Web: North Korean hackers used AI in crypto heists record $6bn Binance theft
Lihat hasil pemeriksaan (11 klaim)
Pembuka: 8/10Kejelasan: 8/10Struktur: 8/10Manfaat: 8/10Bahasa: 8/10
KlaimPutusanDasar di sumber
Binance mengalami pencurian dana terbesar dalam sejarah dengan kerugian diperkirakan mencapai 6,3 miliar dolar AS.Didukung“Binance estimates its losses at around $6.3bn.”
The Next Web mengutip perkiraan kerugian dari pihak Binance serta menyebutnya sebagai pencurian rekor.
Serangan siber terhadap Binance terjadi pada atau sekitar tanggal 29 Oktober 2026.Didukung“stealing more than $6bn from Binance, the world’s largest cryptocurrency exchange, on or around 29 October.”
The Next Web mengutip peringatan dari FBI mengenai waktu penyerangan tersebut.
FBI mengaitkan peretasan Binance dengan kelompok TraderTraitor dari Korea Utara.Didukung“The agency attributed the attack to a group known as TraderTraitor”
The Next Web melaporkan peringatan FBI yang menuduh kelompok TraderTraitor asal Korea Utara.
TraderTraitor sebelumnya dikaitkan dengan pencurian 1,5 miliar dolar AS dari Bybit pada Februari 2025.Didukung“which it has also linked to the $1.5bn theft from Bybit in February 2025.”
The Next Web mencatat rekam jejak kelompok peretas tersebut berdasarkan data FBI.
Penyidik meyakini pelaku menembus sistem penarikan dana melalui laptop seorang insinyur perangkat lunak Binance.Didukung“investigators believe the attackers gained access to a software engineer’s laptop, allowing them to reach the systems responsible for processing withdrawals.”
The Next Web mengutip laporan Bloomberg perihal dugaan jalur masuk peretas.
Federico Charosky dari Quorum Cyber menyebut taktik umum peretas adalah mendekati karyawan lewat wawancara kerja palsu untuk memasang kode jahat.Didukung“Federico Charosky of cybersecurity firm Quorum Cyber told Bloomberg that one common tactic is to approach exchange engineers through fake job interviews.”
The Next Web memuat keterangan Charosky mengenai modus rekayasa sosial peretas.
Pakar menduga peretas menggunakan AI untuk meriset target dan mengelabui karyawan, meski keterlibatan AI belum dikonfirmasi secara pasti.Didukung“The use of AI has not been confirmed, and Bloomberg presents it as the experts’ assessment rather than an established fact.”
The Next Web menjelaskan bahwa penggunaan AI masih sebatas dugaan dan asesmen para pakar.
Ari Redbord dari TRM Labs menyatakan serangan ini unprecedented dan nilainya setara akumulasi hasil pencurian Korea Utara selama enam tahun sebelumnya.Didukung“Redbord said North Korea had stolen roughly as much in a single evening as it had taken over the previous six years combined.”
The Next Web mengutip pernyataan Ari Redbord dari TRM Labs.
Dalam empat bulan pertama 2026, kelompok terafiliasi Korea Utara menyumbang sekitar 76 persen kerugian peretasan kripto.Didukung“In the first four months of 2026, groups associated with the country accounted for around 76% of cryptocurrency hack losses”
The Next Web mengutip data TRM Labs yang dilaporkan oleh crypto.news.
Dua serangan pada April 2026 menargetkan KelpDAO dan Drift Protocol dengan kerugian gabungan sekitar 600 juta dolar AS.Didukung“Much of the damage came from two attacks in April, targeting KelpDAO and Drift Protocol , which resulted in losses of around $600m combined.”
The Next Web merinci serangan besar Korea Utara pada April 2026.
Firma Genians melaporkan kelompok Kimsuky menggunakan perangkat AI buatannya sendiri untuk menghasilkan malware dan pesan phishing.Didukung“South Korean cybersecurity firm Genians reported that the Kimsuky group was using its own AI tools to generate malware and phishing messages.”
The Next Web memuat temuan Genians dari bulan Agustus terkait kelompok Kimsuky.

Video AI terbaru

Coinbase on OpenAI Private Intelligence OpenAI

Baca juga