Langsung ke isi
· Kabar AI & robotika, jernih dan terverifikasiNewsletter  ·  Majalah  ·  Kelas & Layanan
Tampilan
Pengaturan tampilan
Tema

Kabar AI yang mudah dibaca.

Pilihan tersimpan di perangkat Anda.

Langganan
Terkini
Trending

Studi Ungkap Risiko Saran Medis Chatbot bagi Pasien Awam

Riset mengungkap akurasi chatbot anjlok drastis ke 34 persen di tangan orang awam dan berisiko menunda penanganan medis.

Ilustrasi: liput24

Poin penting

  • Sebanyak 30 hingga 55 persen orang dewasa memakai chatbot kecerdasan buatan untuk memeriksa masalah kesehatan.
  • Akurasi saran kesehatan chatbot anjlok dari 94,9 persen ke 34,5 persen saat dipakai oleh masyarakat awam.
  • Satu dari lima orang di Inggris batal mencari bantuan dokter setelah membaca saran dari program pintar.

Banyak orang kini mengandalkan kecerdasan buatan sebelum pergi ke klinik. Antara 30 persen sampai 55 persen orang dewasa memakai ChatGPT untuk memeriksa masalah kesehatan.

Menurut laporan TechXplore, kebiasaan ini membawa risiko fatal. Chatbot sering memberi saran keliru saat pengguna tidak memberi rincian lengkap tentang penyakit mereka.

Analisis terhadap 500 ribu percakapan Microsoft Copilot pada 2026 mengungkap pola serupa. Satu dari lima pertanyaan membahas gejala pribadi dan cara pengobatan.

Survei di Australia juga menunjukkan tren tersebut. Lebih dari sepertiga responden memakai ChatGPT untuk mencari arti gejala fisik mereka.

Setengah responden di Australia memakai chatbot untuk mempelajari kondisi penyakit tertentu. Banyak orang merasa konsultasi langsung ke dokter terlalu singkat.

Chatbot disukai karena mudah diakses kapan saja. Pasien bisa bertanya tanpa rasa takut atau malu.

Risiko Fatal dan Penurunan Akurasi

Namun, saran dari program pintar ini kerap meleset dari fakta medis. Kasus nyata terjadi pada Bowen Wang yang berusia 31 tahun.

Wang meninggal dunia pada Februari setelah ChatGPT memberi saran keliru. Chatbot itu memintanya mengurangi dosis obat epilepsi miliknya.

Studi terhadap 222 pertanyaan pasien menemukan fakta mencemaskan. Sekitar 5 persen hingga 13 persen jawaban AI berisiko menimbulkan bahaya serius bagi pasien.

Riset lain menguji skenario medis buatan peneliti dengan hasil 94,9 persen akurat. Namun angka itu merosot tajam menjadi 34,5 persen saat diuji oleh pengguna biasa.

Pengguna awam memang kesulitan menyusun pertanyaan yang tepat dan rinci. Mereka juga jarang memeriksa ulang sumber rujukan.

Buktinya, hanya 1 persen pengguna yang membuka tautan rujukan pada ringkasan pintar Google. Kebiasaan ini sangat berisiko bagi keselamatan pasien.

Survei di Inggris mencatat fakta lain. Satu dari lima orang batal ke dokter setelah membaca saran chatbot.

Pasien juga jarang berterus terang kepada tenaga medis. Sebanyak 83 persen pasien di Polandia merahasiakan penggunaan chatbot dari dokter mereka.

Angka keengganan melapor itu mencapai 32 persen di Amerika Serikat. Pasien biasanya takut mendapat respons negatif dari dokter pemeriksa.

Survei terhadap 1.692 dokter di Amerika Serikat mencatat respons menarik. Sekitar 70 persen dokter menganggap AI positif atau tidak berdampak pada praktik mereka.

Meski begitu, separuh dokter menolak jika pasien memakai AI untuk menafsirkan hasil uji laboratorium. Para ahli kini merancang panduan SMART berisi lima langkah aman menggunakan chatbot.

Apa Artinya bagi Pelaku Usaha

Fenomena ini membawa dampak besar bagi para pemimpin perusahaan. Karyawan yang sakit kini cenderung mendiagnosis diri secara mandiri sebelum izin berobat.

Kesalahan saran dari sistem komputer bisa menunda penanganan medis penting bagi pekerja. Hal ini berisiko memperparah sakit dan meningkatkan angka absensi di kantor.

Manajemen perlu meninjau kembali fasilitas asuransi dan layanan klinik perusahaan. Akses konsultasi dokter yang cepat akan mencegah karyawan bergantung pada mesin pintar.

✓ Lolos pemeriksaan redaksi AI. Artikel ini ditulis AI, 12 klaimnya dicocokkan dengan sumber, dan diuji keterbacaannya sebelum terbit. Menemukan kekeliruan? Laporkan ke redaksi.
Sumber berita (1):
  1. TechXplore: Using ChatGPT before a medical appointment? How to get the best support for your health questions
Lihat hasil pemeriksaan (12 klaim)
Pembuka: 8/10Kejelasan: 8/10Struktur: 8/10Manfaat: 8/10Bahasa: 8/10
KlaimPutusanDasar di sumber
Sebanyak 30 hingga 55 persen orang dewasa menggunakan ChatGPT atau chatbot lain untuk keperluan kesehatan mereka.Didukung“Between 30% and 55% of adults report they have used ChatGPT or other large language models or chatbots for their health.”
TechXplore mengutip data persentase orang dewasa yang menggunakan chatbot untuk kesehatan.
Akurasi saran kesehatan chatbot turun dari 94,9 persen menjadi 34,5 persen saat digunakan oleh peserta penelitian atau masyarakat umum.Didukung“chatbots were accurate 94.9% of the time using hypothetical clinical scenarios (with prompts by the research team), accuracy dropped to 34.5% in searches conducted by study participants”
TechXplore memaparkan hasil studi mengenai penurunan drastis akurasi chatbot ketika pencarian dilakukan langsung oleh peserta studi.
Satu dari lima responden survei di Inggris memutuskan tidak mencari bantuan medis profesional setelah berkonsultasi dengan chatbot.Didukung“In the U.K. survey described above, one in five respondents decided against seeking medical advice from a professional after consulting a chatbot.”
TechXplore melaporkan temuan survei di Inggris mengenai pembatalan konsultasi medis setelah menggunakan chatbot.
Analisis terhadap lebih dari 500.000 percakapan Microsoft Copilot pada 2026 menemukan satu dari lima pertanyaan berkaitan dengan gejala pribadi dan pengobatan.Didukung“A 2026 analysis of over 500,000 health conversations with Microsoft Copilot found one in five related to personal symptoms and treatments.”
TechXplore menyajikan statistik analisis percakapan Copilot terkait gejala dan penanganan medis pribadi.
Lebih dari sepertiga pengguna ChatGPT untuk kesehatan di Australia menggunakannya guna mengetahui arti gejala, dan setengahnya menggunakannya untuk mempelajari kondisi penyakit tertentu.Didukung“More than one-third of those who used ChatGPT for their health did so to find out what symptoms meant. Half used it to learn about a specific health condition.”
TechXplore merangkum hasil survei representatif nasional di Australia.
Bowen Wang yang berusia 31 tahun meninggal dunia pada Februari setelah ChatGPT memberikan saran keliru untuk mengurangi dosis obat epilepsinya.Didukung“death of 31-year-old Bowen Wang , who died in February after ChatGPT gave her the wrong advice about cutting back her epilepsy medication.”
TechXplore mengutip laporan media terkait kasus kematian Bowen Wang akibat saran pengurangan obat dari ChatGPT.
Dalam studi terhadap 222 pertanyaan pasien relevan perawatan primer, antara 5 hingga 13 persen respons AI tidak aman dan berpotensi menimbulkan bahaya serius bagi pasien.Didukung“One study investigated AI responses to 222 patient questions that were relevant to primary care. Between 5% and 13% of the responses were unsafe, with the potential to lead to "serious patient harm,"”
TechXplore menjelaskan temuan penelitian terhadap 222 pertanyaan pasien perawatan primer.
Hanya 1 persen pengguna yang mengeklik tautan rujukan pada ringkasan AI Google.Didukung“Only 1% of users click on the links provided by Google's AI summaries.”
TechXplore mencatat kebiasaan pengguna yang sangat jarang memeriksa sumber rujukan AI Google.
Persentase pasien yang tidak memberitahu dokter mengenai penggunaan chatbot berkisar antara 83 persen di Polandia hingga 32 persen di AS.Didukung“Many don't—from 83% of patients in a Polish survey to 32% in the U.S.”
TechXplore menyebutkan persentase pasien yang enggan berterus terang kepada tenaga medis di Polandia dan AS.
Dari 1.692 dokter yang disurvei di AS, 70 persen menganggap penggunaan chatbot AI oleh pasien berdampak positif atau tidak berpengaruh pada praktik mereka.Didukung“Of the 1,692 clinicians surveyed, 70% considered patients' use of AI chatbots for general health information or decision-making positive or said it had no impact on their practice.”
TechXplore memaparkan hasil survei dokter di AS mengenai persepsi penggunaan chatbot oleh pasien.
Sekitar 50 persen dokter di AS jarang atau tidak pernah menginginkan pasien memakai AI untuk menafsirkan hasil tes atau laporan medis.Didukung“around 50% said they would rarely or never want their patients to use AI to interpret medical test results or reports.”
TechXplore mencatat penolakan dokter terhadap pemanfaatan AI untuk interpretasi hasil laboratorium.
Panduan SMART yang dirancang tim internasional menjabarkan lima langkah kunci untuk membantu penggunaan chatbot secara lebih aman.Didukung“The new SMART guide, designed by an international team of clinicians, researchers and AI health experts, spells out five key steps to help people use chatbots more safely”
TechXplore menerangkan adanya panduan SMART berisi lima langkah penggunaan chatbot kesehatan.

Video AI terbaru

Coinbase on OpenAI Private Intelligence OpenAI

Baca juga