Karyawan Pengguna AI Bekerja hingga 90 Menit Lebih Lama Tiap Hari
Analisis ActivTrak mengungkap adopsi kecerdasan buatan justru memperpanjang hari kerja karyawan hingga 90 menit akibat revisi draf dan gangguan fokus.

Foto: Futurism (Dokumentasi editorial)
Poin penting
- Karyawan pengguna berat AI bekerja hingga 9,1 jam per hari dibanding 7,6 jam pada pekerja non-AI.
- Waktu kerja tersita untuk menyortir draf AI yang kurang rapi serta tingginya frekuensi ganti aplikasi.
- Perusahaan perlu mengevaluasi beban kerja agar adopsi teknologi tidak memicu jam lembur tak berkesudahan.
Janji kecerdasan buatan untuk menciptakan alat kerja yang jauh lebih efisien dari manusia kini menghadapi ujian besar. Alih-alih memangkas beban kerja, teknologi ini justru memperpanjang jam kerja harian para karyawan kantoran.
Pelaku usaha dunia telah lama menantikan peningkatan produktivitas sejak AI hadir luas sebagai produk komersial empat tahun lalu. Namun, imbal hasil produktivitas yang dijanjikan industri teknologi sebagian besar belum terwujud di lapangan.
Laporan terbaru mengungkap dorongan otomasi justru berbalik menjadi bumerang bagi efisiensi tenaga kerja. Para pekerja yang dituntut mengadopsi perangkat AI dilaporkan semakin tidak efisien seiring berjalannya waktu.
Temuan tersebut dipublikasikan oleh ActivTrak, perusahaan pemantau aktivitas tempat kerja, sebagaimana pertama kali diliput oleh Gizmodo dan Futurism. Riset itu meneliti data aktivitas kerja tanpa nama dari ribuan pekerja kerah putih.
Analis perusahaan memantau lebih dari 9.100 karyawan di lebih dari 450 perusahaan sepanjang periode April hingga September. Data yang terkumpul menunjukkan kesenjangan waktu kerja yang cukup tajam antarkelompok pekerja.
Bagi pekerja yang tidak memanfaatkan AI, rata-rata hari kerja aktif tercatat selama 7,6 jam. Sementara itu, karyawan pengguna intensif AI menghabiskan waktu kerja antara 8,4 hingga 9,1 jam per hari.
Pemicu Molornya Jam Kerja
Perbedaan waktu tersebut menunjukkan karyawan pengguna berat AI harus bekerja hingga 90 menit lebih lama setiap harinya. Beban tambahan ini bersumber dari proses pemanfaatan teknologi yang belum matang.
Bagi para pekerja, menyaring draf berkualitas rendah yang dihasilkan AI memakan waktu yang sangat lama. Waktu yang dihabiskan untuk merapikan hasil otomasi sering kali melebihi pengerjaan manual secara langsung.
Kepala divisi riset produktivitas ActivTrak, Gabriela Mauch, menegaskan adanya paradoks penggunaan teknologi ini dalam laporannya. Peningkatan kecepatan pada tugas individual ternyata diiringi sejumlah konsekuensi negatif.
AI mungkin membantu karyawan menyelesaikan tugas lebih cepat, namun riset kami menunjukkan teknologi ini berkontribusi pada hari kerja yang lebih panjang, perpindahan aplikasi yang lebih sering, dan sesi fokus yang lebih pendek.
Pekerja pengguna berat AI tercatat mengalami frekuensi gangguan kerja yang jauh lebih tinggi dibanding rekan kerjanya. Mereka terus berpindah antar-aplikasi demi memeriksa dan memproses data otomatis secara terus-menerus.
Perpindahan aplikasi yang terlalu sering menyebabkan sesi kerja mendalam menjadi terpecah belah. Akibatnya, karyawan kehilangan fokus utama dan membutuhkan energi ekstra untuk kembali berkonsentrasi.
Dari sisi manajerial, temuan ini memperlihatkan karyawan pengguna AI terpaksa menghabiskan waktu kerja tambahan di luar jam kantor. Jam lembur berbayar tersebut membengkak demi menuntaskan tugas harian yang tertunda.
Riset ini juga mengindikasikan bahwa perusahaan kerap memakai AI sebagai alasan menuntut volume kerja lebih besar per individu. Target keluaran dinaikkan drastis tanpa mempertimbangkan efisiensi kerja yang sesungguhnya di lapangan.
Apa Artinya bagi Pelaku Usaha
Bagi para direktur dan manajer operasional, temuan ini menjadi peringatan penting dalam mengelola investasi perangkat lunak modern. Membeli lisensi alat cerdas tidak otomatis menurunkan ongkos operasional atau mengurangi beban kerja tim.
Langkah mitigasi yang perlu diambil adalah mengaudit alur kerja dan mengevaluasi kualitas hasil alat AI secara berkala. Manajemen harus memastikan karyawan memiliki standar verifikasi yang jelas agar tidak terjebak menyunting draf kasar berlarut-larut.
Pelaku usaha juga perlu membatasi jumlah aplikasi kerja yang saling tumpang tindih untuk menjaga fokus karyawan. Mengurangi distraksi digital akan membantu staf bekerja lebih tenang tanpa harus memperpanjang waktu di depan layar.
Terakhir, pimpinan perusahaan sebaiknya tidak langsung melipatgandakan target tugas hanya karena tim telah dibekali perangkat otomasi. Penyesuaian beban kerja yang realistis merupakan kunci menjaga produktivitas jangka panjang tanpa memicu kelelahan kerja.
- Futurism: Employees Who Use AI End Up Working Vastly More Time Per Day
Lihat hasil pemeriksaan (9 klaim)
| Klaim | Putusan | Dasar di sumber |
|---|---|---|
| Pekerja kantoran pengguna AI bekerja hingga 90 menit lebih lama setiap harinya dibanding non-pengguna. | Didukung | “found that white collar workers who use AI put in up to 90 minutes more work each day compared to non-users.” Dilaporkan oleh Futurism mengutip analisis ActivTrak. |
| Riset ActivTrak meneliti data aktivitas kerja tanpa nama dari lebih dari 9.100 karyawan di lebih dari 450 perusahaan periode April hingga September. | Didukung | “looked at anonymized work activity from over 9,100 employees at over 450 companies from the period between April and September.” Dilaporkan oleh Futurism. |
| Rata-rata hari kerja aktif karyawan non-pengguna AI adalah 7,6 jam, sedangkan pengguna berat AI berkisar antara 8,4 hingga 9,1 jam per hari. | Didukung | “For non-AI users observed over that time, the average active workday was 7.6 hours — compared to between 8.4 and 9.1 hours for heavy AI users.” Dilaporkan oleh Futurism. |
| Sudah empat tahun berlalu sejak AI pertama kali tersedia luas sebagai produk komersial dan imbal hasil produktivitasnya sebagian besar belum terwujud. | Didukung | “In the four years since AI first became broadly available as a commercial product, these productivity returns have mostly failed to materialize .” Dilaporkan oleh Futurism. |
| Menyortir hasil generatif AI membutuhkan lebih banyak waktu dibanding menyelesaikan tugas kerja secara manual. | Didukung | “sorting through AI-generated slop takes more time than it would to just do workplace tasks by hand.” Dilaporkan oleh Futurism. |
| Gabriela Mauch menjabat sebagai kepala divisi riset produktivitas di ActivTrak. | Didukung | “head of ActivTrak’s productivity research division Gabriela Mauch” Dilaporkan oleh Futurism. |
| Riset menunjukkan AI berkontribusi pada hari kerja lebih panjang, perpindahan aplikasi lebih sering, dan sesi fokus lebih pendek. | Didukung | “it contributes to longer workdays, more application switching and shorter focus sessions.” Pernyataan Gabriela Mauch yang dikutip Futurism. |
| Pengguna berat AI harus menghabiskan waktu kerja ekstra setelah jam kerja dan mengalami frekuensi interupsi kerja lebih tinggi. | Didukung | “heavy AI users are having to spend extra billable time working after hours, while experiencing a higher frequency of interrupted work than light- or non-AI users.” Dilaporkan oleh Futurism. |
| Pemberi kerja berpotensi memakai AI bukan semata mengganti pekerjaan, melainkan sebagai dalih menuntut lebih banyak tenaga kerja per karyawan. | Didukung | “employers aren’t necessarily using AI to replace jobs wholesale, but as an excuse to demand even more labor per worker” Dilaporkan oleh Futurism. |
Video AI terbaru
How Siemens Plans Production in Minutes With NVIDIA AI


