Trump Dikabarkan Minta Saran AI Grok Sebelum Serang Venezuela
Parlemen Amerika Serikat memprotes kabar Donald Trump berkonsultasi ke Grok sebelum mengirim pasukan untuk menculik Nicolas Maduro.
Ilustrasi: liput24
Poin penting
- Donald Trump dilaporkan berkonsultasi dengan Grok sebelum mengirim tentara ke Venezuela.
- Dua anggota DPR AS meminta Trump menyimpan seluruh riwayat percakapan dengan chatbot AI.
- Parlemen mencemaskan keandalan saran AI dan potensi konflik kepentingan dengan Elon Musk.
Donald Trump menuai kritik tajam di Amerika Serikat. Ia dilaporkan meminta saran kecerdasan buatan sebelum memutuskan aksi militer. Kabar ini menjadi sorotan hangat di kalangan parlemen.
Kabar tersebut diberitakan oleh media CNBC Indonesia yang mengutip Politico. Trump berkonsultasi dengan Grok, sistem kecerdasan buatan milik Elon Musk.
Konsultasi itu dilakukan sebelum pengiriman pasukan tentara ke Venezuela. Pasukan tersebut diperintahkan untuk menculik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Rencana itu dijalankan tanpa persetujuan parlemen.
Langkah Presiden Amerika Serikat ini memicu keprihatinan luas. Dua anggota DPR dari Partai Demokrat melayangkan protes keras secara terbuka. Mereka adalah Jamie Raskin dan Robert Garcia.
Kedua wakil rakyat itu mempertanyakan keandalan jawaban dari Grok. Mereka cemas saran dari mesin memiliki kecenderungan atau bias tertentu. Teknologi tersebut dinilai belum teruji untuk urusan kenegaraan.
Keputusan sebesar pengerahan tentara seharusnya diambil dengan sangat hati-hati. Parlemen menilai masukan mesin tidak boleh menggantikan pertimbangan manusia. Nyawa manusia dipertaruhkan dalam operasi bersenjata itu.
Permintaan Bukti Percakapan Digital
Raskin dan Garcia mengirimkan surat resmi langsung kepada Presiden Trump. Mereka meminta Trump menyimpan semua prompt yang dikirim ke sistem. Prompt adalah teks perintah atau pertanyaan bagi kecerdasan buatan.
Permintaan pencatatan ini tidak hanya berlaku untuk Grok milik Musk. Trump juga diminta menyimpan riwayat dari OpenAI, ChatGPT, dan Claude. Seluruh pertanyaan saat tugas konstitusional harus dicatat lengkap.
Laporan menyebutkan Trump sempat meminta opini Grok terkait situasi luar negeri. Ia menanyakan potensi respons warga Venezuela jika Maduro ditangkap. Saran dari komputer itu diduga memengaruhi langkah pemerintah.
Beberapa pekan setelah sesi konsultasi, serangan militer benar-benar diluncurkan. Tentara Amerika Serikat bergerak menyerang Venezuela dan menculik Maduro. Serangan tersebut digelar tanpa izin dari Kongres Amerika Serikat.
Garcia dan Raskin menegaskan bahwa kabar ini sangat mencemaskan publik. Trump dinilai lebih memilih berkonsultasi dengan mesin komputer cerdas. Ia justru mengabaikan para wakil rakyat di Kongres.
Padahal, Kongres memiliki wewenang konstitusional untuk menyatakan perang secara sah. Pengambilan keputusan sepihak lewat bantuan mesin dianggap melangkahi aturan hukum. Prosedur baku negara dinilai telah diabaikan.
Dugaan Konflik Kepentingan Swasta
Parlemen juga menyoroti latar belakang kepemilikan teknologi tersebut. Grok dikembangkan oleh perusahaan swasta milik miliarder Elon Musk. Hubungan antara Musk dan Trump sudah lama terjalin erat.
Kedekatan pribadi itu menimbulkan tanda tanya besar di tingkat legislatif. Anggota dewan mencurigai adanya potensi konflik kepentingan pribadi maupun bisnis. Kepentingan komersial dikhawatirkan menyusup ke dalam kebijakan pertahanan negara.
Para pengawas kini menuntut kejelasan dari pihak pemerintah pusat. Mereka ingin mengetahui apakah ada pihak swasta lain yang terlibat. Transparansi proses pengambilan keputusan negara dinilai mutlak diperlukan.
Apa Artinya bagi Pelaku Usaha
Kasus ini memberikan pelajaran berharga bagi para pemimpin perusahaan. Kecerdasan buatan memang sangat praktis untuk mengolah berbagai informasi rumit. Namun, teknologi ini tidak boleh mengambil alih keputusan strategis bisnis.
Saran dari aplikasi pintar bisa terdengar meyakinkan dan logis. Meski demikian, algoritma komputer tidak pernah memikul tanggung jawab hukum. Jika sebuah strategi keliru, pimpinan perusahaan yang harus menanggung kerugiannya.
Para direktur dan pemilik usaha juga wajib memperhatikan konflik kepentingan. Memakai alat teknologi buatan rekan bisnis memerlukan kehati-hatian ekstra. Keputusan perusahaan harus selalu didasarkan pada data objektif dan etika.
Selain itu, budaya mencatat jejak digital menjadi semakin krusial. Perusahaan perlu mendokumentasikan setiap penggunaan kecerdasan buatan dalam pekerjaan penting. Catatan tersebut sangat berguna sebagai bukti jika muncul audit kepatuhan.
- CNBC Indonesia: Presiden Ketahuan Konsultasi dengan AI Sebelum Serang Negara Lain
Lihat hasil pemeriksaan (8 klaim)
| Klaim | Putusan | Dasar di sumber |
|---|---|---|
| Donald Trump dilaporkan meminta saran sistem kecerdasan buatan Grok milik Elon Musk sebelum memutuskan mengirim pasukan ke Venezuela untuk menculik Nicolas Maduro. | Didukung | “Dilaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump diketahui meminta saran dari sistem kecerdasan buatan Grok milik Elon Musk sebelum memutuskan untuk mengirim pasukan ke Venezela untuk menculik Nicolas Maduro.” Disebutkan oleh CNBC Indonesia mengutip Politico. |
| Dua anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Jamie Raskin dan Robert Garcia, melayangkan kekhawatiran dan mengirim surat resmi kepada Trump. | Didukung | “Dalam surat ke Trump yang dikutip Politico , dua anggota DPR AS yaitu Jamie Raskin dan Robert Garcia meminta agar Trump menyimpan "semua prompt"” Disebutkan oleh CNBC Indonesia. |
| Parlemen mempertanyakan keandalan saran Grok, potensi bias/kecenderungan, dan penggunaan teknologi yang belum teruji dalam keputusan kenegaraan. | Didukung | “Mereka menanyakan apakah saran yang diberikan oleh sistem AI tersebut dapat dipercaya, apakah memiliki kecenderungan tertentu, dan apakah keputusan penting negara sebesar itu diambil berdasarkan masukan dari teknologi yang belum sepenuhnya teruji.” Disebutkan oleh CNBC Indonesia. |
| Trump diminta menyimpan semua prompt dan respons dari Grok, OpenAI, ChatGPT, dan Claude saat menjalankan tugas konstitusional. | Didukung | “meminta agar Trump menyimpan "semua prompt" yang ia kirim ke chatbot AI, termasuk ke Grok, OpenAI, ChatGPT, dan Claude saat menjalankan tugas konstitusional beserta respons dari tiap chatbot.” Disebutkan oleh CNBC Indonesia. |
| Trump dilaporkan meminta opini Grok tentang potensi respons warga Venezuela jika Nicolas Maduro ditangkap. | Didukung | “termasuk meminta opini Grok tentang potensi respons warga Venezuela jika Nicolas Madura ditangkap.” Disebutkan oleh CNBC Indonesia. |
| Beberapa pekan kemudian, Trump mengirim tentara AS untuk menyerang Venezuela dan menculik Maduro tanpa izin Kongres AS. | Didukung | “Beberapa pekan setelahnya, Trump mengirim tentara AS untuk menyerang Venezuela dan menculik Maduro, tanpa izin Kongres AS.” Disebutkan oleh CNBC Indonesia. |
| Kongres AS memiliki wewenang konstitusional untuk menyatakan perang. | Didukung | “Kongres AS padahal memiliki wewenang konstitusional untuk menyatakan perang.” Disebutkan oleh CNBC Indonesia. |
| Grok dikembangkan perusahaan swasta milik Elon Musk yang memiliki kedekatan pribadi dengan Trump, memicu kekhawatiran konflik kepentingan bisnis/pribadi. | Didukung | “Selain itu, Grok dikembangkan oleh perusahaan swasta milik Elon Musk, yang juga dikenal memiliki kedekatan pribadi dengan Presiden Trump.” Disebutkan oleh CNBC Indonesia. |
Video AI terbaru
TamaGPT


