Peretasan Finansial Berbasis AI Melonjak, Regulator Asia Perketat Keamanan
Kelompok peretas mulai memakai model AI untuk membobol sistem finansial secepat kilat. Otoritas di India hingga Korea Selatan memperketat protokol penyimpanan aset digital.

Foto: Cointelegraph AI (Dokumentasi editorial)
Poin penting
- Badan siber India CERT-In mendeteksi peretas CRAFTY FALCON mencuri kunci dompet memakai otomasi AI.
- Firma CrowdStrike menemukan penggunaan alat uji penetrasi ARTEX dan Claude Code dalam serangan di Korsel.
- Regulator Korea Selatan mendesak penguatan cold storage menyusul peretasan Binance senilai 6,3 miliar dolar AS.
Lembaga keamanan siber dan regulator di Asia memperketat sistem pertahanan digital. Langkah darurat ini diambil menyusul gelombang serangan siber baru yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).
Berdasarkan laporan Cointelegraph AI, para peretas kini membidik bursa aset kripto dan institusi finansial. Serangan tersebut dijalankan secara otomatis dengan kecepatan tinggi untuk menguras dana nasabah.
Badan tanggap darurat siber India, CERT-In, secara resmi melabeli kelompok penyerang ini dengan nama CRAFTY FALCON. Kelompok tersebut dilaporkan mencuri kunci privat dompet digital milik berbagai lembaga keuangan.
CERT-In mencatat serangan berjalan dalam kecepatan mesin yang sangat sulit diantisipasi secara manual. Sejumlah perusahaan pembiayaan non-bank dan entitas teknologi finansial bahkan tetap kebobolan meski telah menerapkan mitigasi awal.
Alat Uji Penetrasi AI Disalahgunakan Peretas
Laporan firma keamanan CrowdStrike turut mengungkap taktik baru yang dijalankan oleh para penyerang siber. Peretas terpantau memanfaatkan ARTEX, sebuah perangkat lunak uji penetrasi keamanan berbasis AI.
Tidak hanya itu, penyerang menggabungkan ARTEX dengan model bahasa kecerdasan buatan seperti Claude Code. Kombinasi perkakas pintar ini digunakan untuk membobol sistem perbankan serta mencuri data di Korea Selatan.
Otomasi AI memungkinkan pelaku merancang dan mengeksekusi kode peretasan dalam hitungan detik. Celah keamanan sistem dapat dipindai secara massal tanpa perlu campur tangan manual yang memakan waktu.
Fenomena peretasan berkecepatan mesin ini memicu kekhawatiran besar di seluruh Asia. Regulator jasa keuangan menilai metode konvensional sudah tidak lagi memadai untuk menahan laju serangan otomatis.
Regulator Perketat Pengawasan Dompet Digital
Merespons ancaman tersebut, Komisi Layanan Finansial (FSC) Korea Selatan menggelar rapat darurat dengan otoritas keamanan siber. Pertemuan ini menyusul insiden peretasan bursa global Binance yang menelan kerugian 6,3 miliar dolar AS.
FSC mendesak pengelola bursa memperbanyak porsi penyimpanan aset pada dompet offline atau cold storage. Cold storage merupakan metode penyimpanan data atau kunci kripto tanpa tersambung ke jaringan internet.
Regulasi di Korea Selatan mewajibkan platform kripto menyimpan minimal 80 persen aset di cold storage. Data resmi menunjukkan bursa Upbit telah menyimpan 99,17 persen aset, disusul Bithumb sebesar 94,76 persen dan Coinone 85 persen.
FSC juga meninjau ulang hak akses administrator, kendali sistem teknologi informasi, serta prosedur penandatanganan penarikan dana. Di sisi lain, Bank of Korea mulai menyurvei 31 institusi finansial untuk mengukur dampak sistemik jika bursa utama mengalami peretasan fatal.
Sementara itu di Vietnam, Kementerian Keuangan merilis aturan ketat baru bagi platform berlisensi. Setiap bursa diwajibkan melaporkan insiden keamanan siber beserta rencana penanganannya dalam kurun waktu 24 jam.
Apa Artinya bagi Pelaku Usaha
Bagi pemilik usaha dan pimpinan teknologi di Indonesia, ancaman serangan berbasis AI ini menuntut pembaruan strategi pertahanan siber. Mengandalkan pengawasan manusia secara manual tidak lagi efektif untuk menangkal serangan berkecepatan mesin.
Manajemen perlu mengevaluasi hak akses sistem internal dan menerapkan prinsip hak akses paling minim bagi setiap karyawan. Prosedur otorisasi ganda atau tanda tangan berlapis wajib diterapkan pada setiap transfer dana keluar bernilai signifikan.
Pelaku usaha juga disarankan memisahkan aset digital krusial dan kunci otentikasi ke dalam penyimpanan offline yang tidak terhubung ke internet. Isolasi sistem cadangan ini penting agar operasional bisnis tetap aman ketika jaringan utama disusupi peretas.
Selain itu, perusahaan jasa keuangan perlu menyusun rencana kontinjensi insiden dengan batas waktu respons yang terukur ketat. Melakukan simulasi berkala terhadap serangan otomatis dapat membantu tim teknologi mendeteksi celah sebelum dieksploitasi oleh pihak luar.
- Cointelegraph AI: Asian crypto exchanges batten down the hatches as hacks surge: Asia Express
Lihat hasil pemeriksaan (7 klaim)
| Klaim | Putusan | Dasar di sumber |
|---|---|---|
| CERT-In menetapkan kelompok ancaman bernama CRAFTY FALCON yang menargetkan bursa kripto dan mencuri kunci dompet digital. | Didukung | “The Indian Computer Emergency Response Team (CERT-In) on Wednesday designated the threat actor as “CRAFTY FALCON” and explicitly identified crypto exchanges among affected businesses.” Dilaporkan Cointelegraph AI dari peringatan CERT-In. |
| Serangan terhadap entitas finansial terjadi pada kecepatan mesin dan menimpa NBFC serta tekfin yang telah menerima anjuran mitigasi awal. | Didukung | “CSIRT-Fin continues to receive reports of successful attacks, including from NBFCs and fintech entities that had already received the earlier restricted advisories and had undertaken remediation” Dilaporkan Cointelegraph AI mengutip pernyataan resmi CERT-In. |
| CrowdStrike melaporkan peretas menggunakan alat uji penetrasi ARTEX bersama Claude Code untuk membobol firma finansial Korea Selatan dan mencuri data. | Didukung | “attacker used ARTEX, an AI penetration-testing tool also named in CERT-In’s advisory, alongside Claude Code and other AI models to breach South Korean financial firms and steal data.” Dilaporkan Cointelegraph AI dari laporan CrowdStrike bulan Oktober. |
| FSC Korea Selatan menggelar rapat darurat dan mendesak bursa meningkatkan porsi cold wallet menyusul peretasan Binance sebesar 6,3 miliar dolar AS. | Didukung | “South Korea’s Financial Services Commission has urged domestic crypto exchanges to increase the proportion of assets held in cold wallets after the $6.3 billion attack on Binance.” Dilaporkan Cointelegraph AI mengenai tindakan regulator FSC Korea Selatan. |
| Hukum Korea Selatan mewajibkan bursa menyimpan minimal 80% aset kripto pengguna di cold storage, dengan Upbit menyimpan 99,17%, Bithumb 94,76%, dan Coinone 85%. | Didukung | “South Korean law already requires exchanges to hold at least 80% of users’ crypto assets in cold storage, with Upbit keeping 99.17% assets in cold wallets , followed by Bithumb at 94.76% and Coinone at 85%.” Disebutkan dalam laporan Cointelegraph AI mengenai ketentuan regulasi di Korea Selatan. |
| Bank of Korea menyurvei 31 institusi finansial mengenai eksposur risiko terhadap skenario penutupan bursa akibat peretasan atau kerugian kripto. | Didukung | “The Bank of Korea is surveying 31 financial institutions on how a major exchange shutdown, prolonged crypto downturn or losses at another firm could affect their operations.” Dilaporkan Cointelegraph AI mengenai survei Bank of Korea. |
| Kementerian Keuangan Vietnam mewajibkan bursa kripto berlisensi melaporkan insiden keamanan dan rencana perbaikan dalam waktu 24 jam. | Didukung | “Ministry of Finance rules require cryptocurrency exchanges licensed in Vietnam to report security incidents and remediation plan within 24 hours” Dilaporkan Cointelegraph AI mengenai aturan baru di Vietnam. |
Video AI terbaru
Washington, D.C. is up next. 🏛️


