Whistleblower Theranos Ingatkan Bahaya Klaim Palsu Startup AI
Tyler Shultz memperingatkan investor agar lebih teliti memeriksa teknologi AI dan mengkritik perjanjian kerahasiaan pekerja lab yang dinilai mengekang.

Foto: The Next Web (Dokumentasi editorial)
Poin penting
- Tyler Shultz memperingatkan kemampuan kecerdasan buatan sangat mudah dipalsukan oleh pembuatnya.
- Investor diminta berhenti menyuntik dana tanpa melakukan pemeriksaan mendalam terhadap teknologi AI.
- Perjanjian kerahasiaan karyawan di lab AI dinilai berlebihan dan menyulitkan pelaporan pelanggaran.
Tyler Shultz memperingatkan bahaya penipuan di industri kecerdasan buatan. Mantan pembongkar skandal Theranos ini meminta pemodal lebih berhati-hati. Banyak klaim teknologi AI dinilai sangat mudah dipalsukan.
Shultz menyampaikan pandangan itu dalam wawancara siniar PST dari The San Francisco Standard. Laporan ini dimuat oleh media The Next Web. Saat ini, aliran dana investor sedang membanjiri berbagai perusahaan rintisan AI.
Menurut Shultz, kemampuan canggih yang belum dimiliki perusahaan sangat gampang diklaim. Pemilik dana sering kali sulit membedakan teknologi asli dan tiruan.
"Sangat sulit membedakan teknologi yang benar-benar baru dengan produk polesan ChatGPT biasa," kata Shultz.
Shultz menilai kebiasaan lama para pemodal ventura harus segera dihentikan. Dulu, pemodal bisa memberi uang seratus ribu dolar hanya setelah mengobrol santai selama setengah jam.
Pola santai itu dulu dimanfaatkan Elizabeth Holmes di Theranos. Holmes berhasil mengumpulkan dana seratus juta dolar dari pemodal individu.
Bagi Shultz, pemodal Theranos memang korban penipuan di atas kertas. Namun, kelalaian mereka memeriksa kebenaran produk justru memberi panggung bagi pelaku kejahatan.
Tekanan Perjanjian Kerahasiaan di Lab AI
Shultz juga menyoroti nasib para peneliti keselamatan di lab AI. Saat ini aturan hukum yang mengawasi industri AI masih sangat sedikit. Kondisi ini membuat pekerja dalam perusahaan sulit melapor ke publik.
Banyak karyawan menandatangani surat perjanjian kerahasiaan atau NDA. Perjanjian ini kerap melarang pekerja berbicara buruk tentang perusahaan mereka.
"Perjanjian kerahasiaan yang ditandatangani para pekerja teknologi ini sangat mengekang dan bahkan mungkin melanggar hukum," kata Shultz.
Saat masih di Theranos, Shultz menandatangani beberapa perjanjian kerahasiaan yang menakutkan. Dia bahkan memakai nama dan alamat email palsu untuk melapor ke regulator pemerintah.
Kini Shultz berusaha membantu pekerja agar lebih mudah mendapatkan bantuan hukum. Sebagian pengacara bersedia mendampingi pelapor dengan sistem bagi hasil tanpa bayar di muka.
Sorotan terhadap pekerja lab AI memang sedang meningkat di Amerika Serikat. Sebanyak dua puluh anggota dewan dari Partai Demokrat mengirim surat ke OpenAI terkait pemecatan peneliti keselamatan.
The Wall Street Journal melaporkan OpenAI sempat memeriksa ruang obrolan Signal di ponsel karyawan mereka. Saksi dari mantan pekerja lab AI juga baru saja bersaksi di sidang kota New York.
Skandal Theranos sendiri berakhir dengan vonis penjara bagi Holmes dan mitranya, Ramesh Balwani. Holmes dihukum lebih dari sebelas tahun penjara, sedangkan Balwani hampir tiga belas tahun penjara.
Apa Artinya bagi Pelaku Usaha
Peringatan ini menjadi sinyal penting bagi para pemilik bisnis dan pimpinan perusahaan. Tren AI membuat banyak vendor menawarkan alat bantu yang tampak canggih. Anda tidak boleh langsung percaya pada demo produk yang memukau.
Pelaku usaha wajib memeriksa apakah teknologi tersebut benar-benar milik vendor. Jangan sampai perusahaan Anda membayar mahal untuk sistem yang hanya membungkus teknologi pihak ketiga. Risiko biaya dan kebocoran data operasional bisa merugikan bisnis.
Perusahaan juga perlu berhati-hati saat membeli solusi kecerdasan buatan dari pihak luar. Mintalah bukti uji coba nyata sebelum meneken kontrak kerja sama bernilai besar. Sikap kritis akan melindungi keuangan kantor Anda dari janji manis vendor.
- The Next Web: AI is easy to fake, Theranos whistleblower Tyler Shultz tells SF Standard
Lihat hasil pemeriksaan (12 klaim)
| Klaim | Putusan | Dasar di sumber |
|---|---|---|
| Tyler Shultz memperingatkan investor agar lebih teliti memeriksa teknologi AI dan mengkritik perjanjian kerahasiaan di lab AI. | Didukung | “He now says AI is hard to vet, and investors need to do real due diligence.” The Next Web mengutip pernyataan Shultz mengenai perlunya uji tuntas investor terhadap AI. |
| Kemampuan teknologi AI yang tidak dimiliki sebuah startup sangat mudah dipalsukan. | Didukung | “Shultz said capabilities a company does not have, or may never have, are not hard to fake.” The Next Web mengutip Shultz tentang kemudahan memalsukan kemampuan AI. |
| Shultz menyatakan sulit membedakan inovasi AI yang benar-benar baru dengan sekadar pembungkus ChatGPT. | Didukung | ““It’s really hard to tell the difference between what is like something truly unique and new versus like a ChatGPT wrapper,” Shultz said.” The Next Web memuat kutipan langsung Shultz mengenai ChatGPT wrapper. |
| Shultz menilai kebiasaan memberikan 100.000 dolar hanya setelah mengobrol kopi 30 menit harus diakhiri. | Didukung | ““I think the days of having a 30-minute coffee with someone and sending them $100,000 should be over,” he said.” The Next Web mengutip pernyataan Shultz terkait praktik pendanaan santai tersebut. |
| Elizabeth Holmes mengembangkan model penggalangan dana santai itu hingga mencapai 100 juta dolar dalam putaran angel round. | Didukung | “Holmes took that model and scaled it to $100m, raising what Shultz called the biggest angel round of all time.” The Next Web menyebut Holmes mengumpulkan 100 juta dolar dalam skema tersebut. |
| Investor Theranos dinilai sebagai korban sekaligus pihak yang memfasilitasi penipuan karena minimnya uji tuntas. | Didukung | “On paper, the Theranos investors were the victims, he said. In his view, they were also enablers. Their lack of due diligence handed her power she should never have had.” The Next Web menulis pandangan Shultz tentang kelalaian investor Theranos. |
| Hanya sedikit regulasi yang mengatur AI sehingga menyulitkan pekerja internal untuk mengungkap pelanggaran. | Didukung | “Few laws govern AI, he added, which makes it hard for people inside AI companies to blow the whistle.” The Next Web mencatat pernyataan Shultz tentang minimnya hukum yang mengatur AI. |
| Perjanjian kerahasiaan dan non-disparagement yang ditandatangani pekerja lab AI dinilai sangat mengekang dan kemungkinan ilegal. | Didukung | ““The NDAs and the non-disparagement agreements that many of these tech workers have signed are so incredibly overbearing and I would say likely illegal even,” Shultz said.” The Next Web memuat kutipan langsung Shultz tentang NDA pekerja teknologi. |
| Shultz pernah menandatangani NDA menakutkan di Theranos serta menggunakan nama dan email palsu saat melapor ke regulator. | Didukung | “He used a fake name and a fake email address to contact regulators.” The Next Web mencatat pengalaman Shultz saat bekerja di Theranos. |
| Dua puluh anggota parlemen dari Partai Demokrat menyurati OpenAI terkait pemecatan peneliti keselamatan. | Didukung | “this week twenty House Democrats wrote to OpenAI about its fired safety researchers.” The Next Web melaporkan langkah 20 anggota DPR Partai Demokrat terhadap OpenAI. |
| OpenAI sempat memeriksa ponsel karyawannya untuk mencari percakapan di aplikasi Signal. | Didukung | “OpenAI had checked their phones for Signal chats, The Wall Street Journal reported.” The Next Web mengutip laporan The Wall Street Journal terkait pemeriksaan ponsel oleh OpenAI. |
| Elizabeth Holmes divonis lebih dari 11 tahun penjara dan Ramesh Balwani dihukum hampir 13 tahun penjara. | Didukung | “Holmes and Ramesh “Sunny” Balwani went to prison about three years ago, on sentences of more than 11 years and nearly 13 years.” The Next Web merinci masa hukuman penjara Holmes dan Balwani. |
Video AI terbaru
TamaGPT


