Langsung ke isi
· Kabar AI & robotika, jernih dan terverifikasiNewsletter  ·  Majalah  ·  Kelas & Layanan
Tampilan
Pengaturan tampilan
Tema

Kabar AI yang mudah dibaca.

Pilihan tersimpan di perangkat Anda.

Langganan
Terkini
Trending

Robot Ngengat Tumbuhkan Sensor Baru Pakai Darah Artifisial

Riset gabungan Estonia dan Italia membuktikan prototipe robot ngengat mampu menumbuhkan sensor baru di tubuhnya memanfaatkan reaksi kimia cairan buatan.

Foto liputan New Atlas untuk berita: Robot Ngengat Tumbuhkan Sensor Baru Pakai Darah Artifisial.

Foto: New Atlas (Dokumentasi editorial)

Poin penting

  • Robot ngengat menumbuhkan sensor UV melalui reaksi kimia cairan buatan dan sinar ultraviolet di lab.
  • Sensor polimer konduktif yang terbentuk masih bekerja setelah empat bulan dan bertambah sensitif.
  • Riset ini membuka peluang perancangan perangkat otonom masa depan yang dapat beradaptasi tanpa ganti fisik.

Robot industri umumnya keluar dari pabrik dengan rangkaian sensor permanen yang tidak dapat diubah. Keterbatasan fisik ini menyulitkan adaptasi operasional ketika robot harus menghadapi kebutuhan sensorik baru yang belum diprediksi sebelumnya.

Menjawab kendala tersebut, peneliti University of Tartu di Estonia dan Italian Institute of Technology (IIT) mengembangkan prototipe robot ngengat yang mampu menumbuhkan sensor baru. Riset yang dirilis dalam jurnal Advanced Science ini memanfaatkan bahan kimia di dalam cairan sirkulasi buatan robot.

Mekanisme Pembentukan Sensor Berbasis Cairan Kimia

Menurut laporan New Atlas, tubuh robot dicetak tiga dimensi menggunakan plastik transparan berrongga mikro menyerupai pembuluh darah. Pompa mini mengalirkan tiga mililiter cairan pembawa pyrrole, senyawa kimia yang mengeras menjadi polipiroril atau plastik penghantar arus listrik saat terpicu sinar ultraviolet (UV).

Dalam uji coba laboratorium, tim peneliti mengarahkan sinar UV menggunakan stensil khusus ke area sayap tertentu. Area plastik yang terpapar berubah warna menjadi hitam dan seketika terhubung dengan kawat emas bawaan di dalam rangka robot.

Saat sensor baru terkena cahaya UV berikutnya, hambatan listriknya menurun seketika dan memicu mikrokontroler untuk mengedipkan lampu LED atau menggerakkan sayap. Sensor ini terbukti masih bekerja setelah empat bulan disimpan, bahkan kian sensitif seiring berjalannya reaksi sisa cairan meski membutuhkan waktu pemulihan lima menit tiap siklus.

Menumbuhkan reseptor langsung di lokasi memungkinkan lingkungan itu sendiri membentuk robot berdasarkan kebutuhan nyata saat itu.

Keterbatasan Prototipe dan Target Pengembangan

Kadri-Ann Pankratov, peneliti utama dari University of Tartu, mengungkapkan bahwa sistem sirkulasi robot dapat dibilas dan diisi bahan kimia berbeda. Ke depan, cairan sirkulasi ini juga dirancang sebagai penyimpan energi internal untuk menggerakkan prosesor tanpa baterai terpisah.

Kendati menjanjikan, inovasi ini masih berstatus purwarupa laboratorium dengan sejumlah batasan teknis. Pembentukan sensor masih membutuhkan stensil manual peneliti, reaksi kimia tidak dapat dibatalkan, dan kepakan sayap digerakkan kawat nitinol atau logam paduan elastis bersumber daya eksternal.

Apa Artinya bagi Pelaku Usaha

Bagi para pengelola industri logistik, inspeksi infrastruktur, dan manufaktur berisiko tinggi, riset ini memberikan gambaran arah evolusi perangkat keras robotik. Model otomatisasi masa depan diproyeksikan beralih dari perangkat kaku menuju sistem biomimetik yang mampu merekonfigurasi fungsinya sendiri.

Dalam jangka panjang, keberhasilan teknologi ini berpotensi menekan belanja modal pembelian unit baru. Perusahaan tidak perlu membeli robot pengganti untuk tugas baru, melainkan cukup menyuntikkan formulasi kimia baru sesuai parameter kerja yang dibutuhkan.

Langkah antisipasi yang relevan saat ini adalah memetakan titik keusangan perangkat keras pada lini otomatisasi operasional. Pelaku usaha disarankan mulai memprioritaskan integrasi sistem modular berstandar terbuka agar lebih fleksibel saat teknologi material adaptif siap dikomersialkan.

✓ Lolos pemeriksaan redaksi AI. Artikel ini ditulis AI, 9 klaimnya dicocokkan dengan sumber, dan diuji keterbacaannya sebelum terbit. Menemukan kekeliruan? Laporkan ke redaksi.
Sumber berita (1):
  1. New Atlas: Robot moth grows new sensor using its own blood
Lihat hasil pemeriksaan (9 klaim)
Pembuka: 8/10Kejelasan: 8/10Struktur: 9/10Manfaat: 8/10Bahasa: 8/10
KlaimPutusanDasar di sumber
Peneliti dari University of Tartu di Estonia dan Italian Institute of Technology (IIT) mengembangkan prototipe robot ngengat yang dapat menumbuhkan sensor baru menggunakan bahan kimia dalam darah artifisialnya.Didukung“Built by engineers at the University of Tartu in Estonia and the Italian Institute of Technology (IIT), it carries chemicals in its artificial blood that soak into its 3D-printed body”
New Atlas melaporkan kolaborasi University of Tartu dan IIT dalam merancang robot ngengat tersebut.
Riset tentang robot ngengat ini dipublikasikan dalam jurnal Advanced Science.Didukung“first author of the study published in Advanced Science .”
New Atlas mengonfirmasi riset tersebut diterbitkan dalam jurnal Advanced Science.
Tubuh robot dicetak 3D dari plastik transparan dengan rongga mikro menyerupai pembuluh darah, dan pompa mini mengalirkan sekitar 3 ml cairan.Didukung“The moth's body is 3D-printed from see-through plastic and laced with tiny veins. A small pump pushes about 3 ml (0.1 fl oz) of liquid through them”
New Atlas menjelaskan spesifikasi tubuh cetak 3D dan volume cairan yang dipompa.
Cairan tersebut membawa pyrrole yang berubah menjadi plastik penghantar listrik (polypyrrole) saat terpapar sinar ultraviolet (UV).Didukung“That liquid carries pyrrole, a chemical that turns into an electrically conductive plastic called polypyrrole when it's hit by UV light, with help from a light-activated additive.”
New Atlas merinci reaksi kimia pyrrole menjadi polypyrrole konduktif akibat paparan sinar UV.
Paparan sinar UV melalui stensil menghitamkan area sayap dan terhubung dengan kawat emas bawaan di dalam rangka robot.Didukung“Using a stencil, the team picked which patch of the wing to light up, and that patch turned black. Gold wires threaded through the body when it was printed pick up the change”
New Atlas menguraikan proses pembentukan sensor di sayap dan integrasinya dengan kawat emas bawaan.
Saat terkena sinar UV berikutnya, hambatan listrik sensor turun sesaat dan memicu mikrokontroler onboard mengedipkan LED atau mengepakkan sayap.Didukung“whenever UV light hits the patch, its electrical resistance drops for a moment, and a small onboard chip responds by blinking an LED or flapping the wings.”
New Atlas memaparkan respons elektrik dan mekanik robot saat sensor terkena kilatan UV.
Sensor masih berfungsi setelah empat bulan penyimpanan, semakin sensitif seiring reaksi sisa, dan membutuhkan waktu pemulihan sekitar lima menit per paparan UV.Didukung“The sensor still worked after four months in storage, and it grew more sensitive with every exposure as leftover pyrrole went on reacting, although it takes about five minutes to settle back”
New Atlas mencatat ketahanan sensor selama 4 bulan serta waktu relaksasi 5 menit.
Sistem sirkulasi dapat dibilas dan digunakan kembali dengan bahan kimia berbeda, serta diuji coba untuk memberi daya pada mikroprosesor.Didukung“The benefit of having an on-board circulatory system would be that it can indeed be flushed and reused with the same mixture or something different entirely”
New Atlas memuat pernyataan Kadri-Ann Pankratov mengenai fleksibilitas sistem sirkulasi.
Prototipe memiliki batasan: lokasi sensor masih ditentukan stensil manual peneliti, reaksi tidak dapat dibatalkan, dan sayap digerakkan kawat nitinol bertenaga eksternal.Didukung“a stencil they set, not the surroundings, decided where the sensor formed. The reaction can't be undone either.”
New Atlas menguraikan batasan purwarupa robot terkait kendali stensil, sifat reaksi, dan daya eksternal.

Video AI terbaru

Washington, D.C. is up next. 🏛️ NVIDIA

Baca juga